Membongkar Modus Penggandaan Uang Dimas Kanjeng




Berita Metropolitan – Ismail Hidayah, salah satu korban tewas yang diduga dihabisi anak buah Dimas Kanjeng Taat Pribadi ternyata sempat beberapa kali membujuk sanak familinya di Sumenep, untuk menjadi ‘santri’ di padepokan Dimas Kanjeng.




“Banyak yang diajak Ismail untuk jadi ‘santrinya’ Dimas Kanjeng. Termasuk saya. Tapi saya memang tidak tertarik dengan tawaran itu, meski ‘diiming-imingi bisa mendapatkan uang berkali-kali lipat,” kata sepupu Ismail, KH A. Busairi.


Ia mengaku tidak tahu persis, kapan Ismail masuk menjadi pengikut setia Dimas Kanjeng Pribadi. Tetapi ia memperkirakan, sudah sekitar 10 tahun Ismail ‘nyantri’ di Padepokan Dimas Kanjeng.


“Dari cerita Ismail kalau dia pulang ke Sumenep, dia itu merupakan orang kepercayaan Dimas Kanjeng. Bahkan katanya mau diangkat jadi Sultan (raja: red) disana,” ujarnya.


Ia menuturkan, saat mengajaknya bergabung di padepokan Dimas Kanjeng! Ismail memberikan ‘iming-iming’, bahwa dengan menabung Rp 100 ribu bisa berlipat menjadi Rp 1 juta. Salah satu syarat menjadi ‘santri’ Dimas Kanjeng adalah menyerahkan ‘mahar’ sebesar Rp1.500.000.


“Katanya uang itu nanti bisa berlipat-lipat ganda. Tapi saya memang tidak mau. Karena katanya uang yang tiba-tiba menjadi berlipat ganda itu uang ghaib,” ujarnya, seperti dikutip dari Berita Jatim.


Namun ia mengakui, ada beberapa kerabatnya yang tertarik dan menyetorkan sejumlah uang ke Ismail, untuk digandakan di padepokan Dimas Kanjeng.


“Jumlah persisnya berapa orang yang tertarik jadi pengikut Dimas Kanjeng, kemudian berapa jumlah uang yang disetor, saya tidak tahu persis. Tapi kabarnya mencapai Rp 400 juta,” ungkapnya.


Ismail Hidayah lahir di Desa Aengdake, Kecamatan Bluto. Ia merupakan anak pasangan Musyaffak dan Nabiyah. Ia hidup bersama tiga saudara kandungnya, yakni Siyono, Suwarso, dan Suwarsi. Ismail baru pindah ke Probolinggo mengikuti orang tuanya, setelah lulus Madrasah Tsanawiyah (MTs).


Semasa hidup, Ismail Hidayah dikenal sebagai koordinator pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi untuk wilayah timur. Ia diberi kewenangan untuk menghimpun pengikut dari Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Bali, hingga Lombok.


Ismail dinyatakan hilang sejak 5 Februari 2015, sampai kemudian ia ditemukan tewas terbunuh di Desa Tegalsono, Kecamatan Tegalsiwalan, Probolinggo. Ismail diduga dibunuh anak buah Dimas Kanjeng. (ELS)






0 Response to "Membongkar Modus Penggandaan Uang Dimas Kanjeng"

Posting Komentar