Ongen Sangaji Penghianat Reformasi Yang Menginginkan Ahok Merangkul Ormas FPI





Pimbie.com – Kali ini kami kita akan mengulas masa lalu Ongen Sangaji, anggota DPRD DKI yg sangat getol menggalang hak angket untuk Ahok itu. Sungguh ironis, mereka yang menikmati hasil reformasi sekarang ini dulunya justru merupakan penentang reformasi itu sendiri. 


Salah satu contohnya adalah Ongen Sangaji, yang sekarang menikmati buah reformasi dan duduk nikmat sebagai anggota DPRD DKI.



Tidaklah mengherankan jika mereka yang sejak awal menentang reformasi kini melakukan pembusukan atas demokrasi yg merupakan buah reformasi. Bicara tentang Ongen Sangaji maka kita harus kembali ke masa kelam terbentuknya Pam Swakarsa di tahun 1998. 



Sejarah Pam Swakarsa adalah sejarah khianat segelintir penguasa terhadap bangsanya sendiri. Sejarah Pam Swakarsa adalah sejarah penuh darah.



Kelahiran Pam Swakarsa tak lepas dari berakhirnya kekuasaan Soeharto dengan cara yang berdarah itu. Setelah pidato pengunduran diri Soeharto 23 Mei 1998. Penguasa baru, Habibie-Wiranto pun mencanangkan Sidang Istimewa (SI) MPR. 



Namun oleh mahasiswa dan tokoh reformasi kala itu, SI MPR dianggap tak lebih sebagai akalan utk melegitimasi kekuasaan Habibie.



Maklumlah, mereka menganggap Habibie cs adalah bagian dari rezim orde baru juga. Maka terjadilah penolakan terhadap SI MPR. Melihat gejala penolakan masyarakat ini ahirnya Wiranto memanggil Kivlan Zein untuk memberikan perintah “Rahasia”. 



Kivlan diminta oleh Wiranto untuk mengerahkan massa untuk mendukung SI MPR. Inilah awal mula terbentuknya Pam Swakarsa. 



Latar belakang dibentuknya Pam Swakarsa sendiri adalah karena posisi ABRI yg terdesak akibat mendapat sorotan dunia internasional saat itu. Sejak awal tujuan didirikannya Pam Swakarsa ini jelas, yaitu utk mengadu rakyat sipil dengan rakyat sipil yg lain.



Yaitu untuk mengubah konflik vertikal (Rakyat vs Penguasa) menjadi konflik horizontal ( Rakyat vs Rakyat ). Dengan mengadu domba sesama warga sipil (mahasiswa vs Pam Swakarsa) diharapkan SI MPR dapat diamankan dan ABRI tidak disalahkan apabila jatuh korban. 



Mobilisasi massa pun dilakukan. Nah, salah satu diantaranya adalah kelompok Maluku dibawah Ongen Sangaji ini.



Untuk menjamin militansi pasukan sipil ini pun diberi cap Islam dan indoktrinasi bahwa perjuangan mereka adalah Jihad. Merasa sedang membela negara dan agama serta didukung penuh petinggi militer dan kepolisian, mereka pun mulai bertingkah over acting. Bisa dimaklumi mengingat sebagian anggota Pam Swakarsa terdiri dari para jawara, preman dan pemuda tanggung.



Alih-alih menjaga senayan dari demo mahasiswa, dengan bersenjatakan bambu runcing mereka justru “show of force” dengan patroli keliling kota. Secara terorganisir mereka juga didrop ke lokasi demo mahasiswa. 



Tujuannya apalagi jika bukan diadu dengan mahasiswa. Mereka juga lakukan patroli malam dengan diiringi sedan polisi. Di lingkungan Senayan mereka menghalau para pejalan kaki dan pengendara motor yang lewat. 



Akibat sikap arogan-nya itu berulangkali mereka terlibat bentrok baik dengan mahasiswa pendemo maupun warga masyarakat yg muak. Mulailah muncul banyak kecaman dan peringatan akan dampak negatif keberadaan Pam Swakarsa ini dari berbagai tokoh masyarakat. 



Bahkan para tokoh yang tergabung dalam Deklarasi Ciganjur; Gus Dur, Amien Rais, Megawati dan Sultan HB X mengecam keras keberadaan mereka.



Namun Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto justru membela mereka.“Mau membantu mengamankan negara kok nggak boleh”, demikian dalihnya. 



Apa yang dikhawatirkan banyak pihak pun akhirnya terbukti! Terjadilah konflik horizontal akibat manuver Wiranto ini. 10 Nop 98, sejak siang hari warga mengepung ribuan pasukan Pam Swakarsa yang berkumpul ditengah-tengah lapangan Tugu Proklamasi.



Masyarakat yang marah mulai melempari mereka dengan batu. Akhirnya pasukan Pam Swakarsa ini dievakuasi tentara. 



Pada hari yang sama jam 19.30 terjadi bentrokan lagi antara Pam Swakarsa di sekitar Hotel Hilton dengan massa rakyat Bendungan Hilir dan sekitarnya. Puncaknya terjadi tgl 13 Nop. Diawali ketika 200 orang anggota Pam Swakarsa dari kelompok Maluku menghadang mahasiswa di jembatan Cawang.



Kelompok orang bertubuh gempal dan berwajah sangar dibawah pimpinan Ongen Sangaji ini berlagak menjadi pagar betis. 



Dengan gagahnya mereka menempatkan diri berbaris di depan barikade polisi dan tentara, seperti perisai manusia. Karana sudah antipati terhadap kelakuan Pam Swakarsa ini, masa yang awalnya hanya menonton mahasiswa berdemo, serta merta melempari mereka dengan batu.



Pasukan Pam Swakarsa sempat membalas dengan lemparan batu juga, sambil mengacung-acungkan badik. Namun siapalah yg bisa menghadapi rakyat? 



Akhirnya karena massa rakyat yang makin beringas, pasukan Pam Swakarsa dibawah Ongen Sangaji ini pun lari tunggang langgang. Ongen Sangaji bersama sembilan org lainnya lari ke arah perkampungan. Di sebuah jalan mereka menghentikan sebuah mikrolet.



Setelah menurunkan seorang penumpang ibu-ibu, Ongen memaksa sopir mikrolet untuk mengantarkannya sampai ke rumah, lalu sembunyi. Ongen Sangaji pemimpin kelompok Ambon inipun selamat dari amuk massa. Namun nasib tragis dialami keempat anak buahnya yg gagal meloloskan diri. 



Mereka terjebak di tengah kepungan massa yg bersenjatakan kayu, besi dan batu di sebuah tanah lapang berawa-rawa tdk jauh dari jembatan itu. 



Hasilnya sungguh mengerikan bagi keempat orang itu. Mansur Ulu, Iwan Nurlete, Sulhan Lestahulu dan Budi Muarasabesy akhirnya menemui ajal. Tak cukup sampai disitu, akibat kemarahan yg memuncak, massa masih tidak puas meskipun jasad mereka sudah tidak bernyawa lagi.



Akibatnya, jasad mereka ditemukan secara mengerikan: mata tercungkil, muka remuk, isi kepala terburai akibat hantaman besi, kayu dan batu. Banyak yang berpendapat bahwa kematian empat orang Islam Maluku inilah yg menjadi salah satu pemicu kerusuhan SARA di Poso. 



Demikian sekilas masa lalu Ongen Sangaji yang menjadi salah satu inisiator hak angket terhadap Ahok ini. Dia yang dulunya musuh reformasi itu kini justru menggunakan hasil reformasi untuk menghancurkan buah reformasi itu sendiri. Jadi silakan menentukan pilihan, mau percaya Ongen Sangaji atau Ahok?



  



Source link



0 Response to "Ongen Sangaji Penghianat Reformasi Yang Menginginkan Ahok Merangkul Ormas FPI"

Posting Komentar